Berangkat sekolah menjadi momen tersibuk Ibu dan anak ketika pagi hari. Apalagi anak sudah masuk sekolah tahun ajaran baru 2022 secara tatap muka. Itu tandanya, Ibu harus ekstra persiapan.

Salah satu kegiatan sebelum berangkat sekolah yang wajib dilakukan adalah sarapan pagi. Tentunya, ini karena waktu makan tersebut sangatlah penting untuk kesehatan anak. Apalagi anak dalam kondisi tidak makan dan minum selama tidur malam.

Lalu, kira-kira hal apalagi yang harus dipersiapkan Ibu sebelum anak berangkat sekolah, ya. Berikut ini beberapa hal yang harus Ibu tahu.

 

1. Sarapan Pagi

Sarapan menjadi sajian makanan pertama yang dikonsumsi anak sebelum berangkat sekolah. Setidaknya Ibu bisa sebutkan 2 manfaat sarapan sebelum berangkat sekolah.

Berdasarkan jurnal Public Health Nutrition, ada hubungan yang kuat antara sarapan pagi yang sehat dan meningkatkan kesehatan mental seseorang Sedangkan dalam jurnal Psychological Medicine tahun 2020, menyatakan orang-orang yang sering melewati atau menunda sarapan pagi lebih berpotensi mengalami mood disorder.

Baca Juga : 5 Resep Menu Sarapan Pagi yang Sehat dan Baik untuk Mood Anak

Selain kesehatan mental, sarapan pagi juga membuat anak terhindar dari masalah obesitas. Ini karena sarapan membuat kebutuhan nutrisi anak terpenuhi. Anak pun memiliki energi untuk bersekolah dan tentunya tak mudah lapar. Karena sarapan membuat kenyang lebih lama, anak juga akan terhindar dari jajan sembarangan. Terutama makanan manis dan junk food.

 

2. Seragam

Sebelum berangkat sekolah kita harus mempersiapkan seragam sekolah juga. Ada baiknya Ibu sudah mengecek jadwal pemakaian seragam. Jangan sampai salah, ya. Ini supaya anak tidak merasa malu. Jangan lupa juga untuk menyetrikanya dengan rapi dan diberi pewangi. Hal ini supaya seragam anak tetap harum dan terasa menyegarkan meskipun berada di sekolah seharian.

 

3. Buku dan Alat Tulis

Biasanya, anak suka ada barang yang tertinggal. Misalnya, ketinggalan pensil, penghapus, atau penggaris. Bahkan, tak jarang buku pelajaran juga ketinggalan. Untuk mengurangi potensi hal tersebut terjadi, Ibu bisa melakukan pengecekan jadwal mata pelajaran ketika malam hari.

Tentunya, lalu meminta untuk memasukkan buku dan alat tulis ke dalam tas. Jadi, ketika akan berangkat sekolah, tidak ada barang yang tertinggal.

Baca Juga : 6 Menu Sarapan Sehat Untuk Anak

 

4. Kumpulkan Informasi yang Lengkap

Ada baiknya, Ibu juga mengumpulkan informasi yang lengkap soal kegiatan sekolah anak. Jangan sampai terlewat bila ada pengumuman penting. Biasanya, guru wali kelas akan memberitahukannya di dalam WhatsApp Group atau ada surat yang diberikan pada hari sebelumnya. Ibu bisa biasakan diri mengecek pesan tersebut pada malam hari dan mengeceknya kembali sebelum berangkat sekolah. Ini supaya anak selalu update soal informasi sekolahnya.

Sebelum berangkat sekolah, jangan lupa pula berikan segelas MILO 3in1 hangat agar ia lebih siap menjalani kegiatannya di sekolah. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Produk MILO ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Walau terlihat mudah, ternyata permasalahan memilih sekolah untuk anak cukup pelik, Ibu. Apalagi untuk anak yang baru akan merasakan jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Tentunya, anak tidak boleh sembarangan masuk SD. Bila usia tidak cukup misalnya, anak bisa jadi stres dan sulit beradaptasi. Paling tidak Ibu harus mengetahui usia ideal masuk SD.

Beberapa orang tua ada yang memasukan anak usia 6 tahun dalam jenjang pendidikan dasar. Ada juga anak yang berusia 7 tahun atau lebih baru dimasukan ke dalam SD. Pastinya ibu jadi penasaran, syarat masuk SD umur berapa sebenarnya? Jangan sampai anak masuk bukan dalam usia yang ideal.

Menurut Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019, usia masuk SD yang ideal adalah 7 hingga 12 tahun. Usia ideal masuk SD paling rendah adalah anak berusia 6 tahun pada tanggal 1 Juli. Bila anak berpotensi memiliki kecerdasan otak tinggi dan psikis yang siap menerima pelajaran, anak yang mencapai usia 5 tahun 6 bulan pada tanggal 1 Juli juga diperbolehkan masuk SD.

Mengapa 7 tahun dianggap sebagai usia ideal masuk SD? Hal ini disebabkan anak usia tersebut sudah masuk dalam Tahap Operasional Konkret dalam Teori Tahapan Kognitif anak Jean Piaget. Artinya, kondisi emosi anak lebih stabil. Mentalnya pun sudah lebih kuat dari sebelumnya. Anak juga sudah mulai berpikir logis dan terorganisir. Hal ini membuatnya lebih siap menerima proses pembelajaran di sekolah.

Baca Juga : Pentingnya Sarapan Pagi untuk Membangun Kebiasaan Baik Anak

Tentunya, tak cuma masalah kognitif saja, ada sejumlah alasan 7 tahun merupakan standar usia ideal masuk SD. Berikut beberapa aspek yang perlu Ibu ketahui.

 

1. Aspek Fisik

Tentunya aspek fisik ini berhubungan dengan kemampuan motorik kasar dan halus anak. Ketika anak berusia 7 tahun, ia memiliki otot dan saraf yang sudah terbentuk. Anak pun sudah bisa melakukan koordinasi dengan berbagai organ tubuh.

Misalnya, anak sudah bisa bersepeda yang mengharuskan tangan, kaki, mata, dan otak berkoordinasi. Kemampuan motorik yang sudah mahir inilah yang menjadi dasar ketahanan fisik anak. Ia akan bisa belajar dari pagi hingga siang hari di sekolah.

 

2. Aspek Kognitif

Sudah tahukah Ibu anak usia 7 tahun sudah memiliki kemampuan atau perkembangan kognitif yang lebih baik. Usia ideal masuk SD ini menandakan anak sudah dapat mulai berpikir secara logika untuk menyelesaikan suatu soal atau permasalahan yang sederhana.

Itu sebabnya, anak usia tersebut cenderung sudah dapat membaca, menulis, berhitung, hingga bercerita yang sederhana. Dengan memasukkannya ke dalam Sekolah Dasar, secara tidak langsung Ibu tambah mengasah kemampuan kognitifnya.

 

3. Aspek Emosi

Pernahkah Ibu berpikir, anak akan menangis pada hari pertama masuk SD karena ditinggal orang tuanya? Bila perkembangannya berjalan lancar, semestinya hal tersebut tidak terjadi. Hal ini karena secara umum anak usia 7 tahun sudah siap secara emosional untuk sekolah. Memasuki usia ini juga, anak mulai memiliki keinginan untuk mandiri.

Itu sebabnya, Ibu harus memberi kesempatan anak melakukan tugasnya sendiri. Misalnya yang paling sederhana, membiarkan anak membereskan buku pelajarannya ke dalam tas.

Baca Juga : 4 Manfaat Berteman di Sekolah bagi Anak

 

4. Aspek Psikologis

Melatih konsentrasi anak yang lebih muda, biasanya sangatlah sulit. Ibu harus memiliki kesabaran tingkat tinggi untuk melakukannya. Untungnya, anak usia 7 tahun sudah mengalami perkembangan psikologis yang lebih baik.

Usia ideal masuk SD ini biasanya membuat anak bisa berkonsentrasi selama 35-40 menit. Tentunya, kondisi ini dibutuhkan agar anak dapat mengikuti pelajaran di sekolah. Supaya anak lebih siap menerima pelajaran di sekolah dan terus berenergi, Ibu bisa berikan ia bekal bernutrisi dan MILO UHT.

Selain praktis dikonsumsi kapan dan di mana saja, MILO kotak ini kaya nutrisi. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Susu MILO juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Tahukah Ibu ternyata sikap optimis dibutuhkan anak juga dalam tahap perkembangannya. Anak pastinya memiliki impian atau target tertentu dalam hidupnya. Nah, terkadang jalannya menuju keberhasilan bisa jadi sulit dan penuh rintangan. Tak jarang ia akan mengalami kegagalan. Bersikap optimis dapat membuat anak tidak pantang menyerah dan percaya diri dalam menggapai mimpinya.

Lalu, sebenarnya apa itu sikap optimis? Menurut jurnal Clinical Psychology Review pada November 2010, sikap optimis adalah sikap mental yang ditandai dengan harapan dan kepercayaan diri akan kesuksesan dan masa depan yang cerah. Orang yang optimis akan memandang kegagalan sebagai pengalaman belajar atau keberhasilan yang tertunda. Bahkan, hari yang buruk pun dapat diyakini sebagai awal dari hari baik.

Dari penjelasan di atas, Ibu pasti semakin tahu pentingnya anak memiliki sikap optimis. Ibu bisa menjadi role model anak untuk menumbuhkan sikap tersebut, lho. Berikut ini beberapa contoh perilaku optimis yang bisa Ibu terapkan untuk anak.

Baca Juga : 5 Cara Supaya Anak Punya Sikap Pantang Menyerah

 

1. Memerhatikan Hal-hal Baik yang Terjadi

Sikap optimis tidak akan muncul bila anak tidak pernah mengalami hal-hal yang positif dalam hidupnya. Ibu pun tidak akan tahu hal tersebut pernah terjadi. Untuk itu, Ibu bisa mengajaknya mengungkapkan hal-hal baik yang dialaminya setiap hari dalam waktu 10 menit.

Ibu bisa melakukannya dengan tanya jawab santai ketika akan tidur. Bisa juga membiasakan anak menulis buku harian atau jurnal. Pastikan anak dibuat nyaman dulu ketika akan menyampaikannya, ya.

 

2. Memiliki Harapan yang Positif

Ini saatnya Ibu menyampaikan harapan-harapan baik kepada anak. Misalnya, berharap anak akan berhasil dalam studinya ketika mulai bersekolah atau berharap anak dapat memenangkan suatu perlombaan.

Tahukah Ibu, harapan tersebut adalah sebuah doa sekaligus motivasi anak untuk menumbuhkan sikap optimis. Ia pun yakin dapat menyelesaikan tugas-tugasnya.

 

3. Melihat Tantangan Sebagai Kesempatan

Pastinya setiap kegiatan yang dilakukan anak punya tantangan dan masalahnya sendiri. Ini saatnya Ibu membiarkan anak menyelesaikannya sendiri. Biarkan ia mencari jalan keluar yang cocok untuknya.

Walau demikian, Ibu tetap harus mengawasinya dari kejauhan. Jadilah teman bicara anak ketika ia memerlukan saran. Tanamkan konsep tantangan sebagai sebuah kesempatan baru yang mungkin tidak akan datang lagi di kemudian hari.

Baca Juga : 6 Cara Membangun Karakter Saling Menghormati Dengan Olahraga

 

4. Biarkan Anak Aktif Coba Tantangan Baru

Setelah anak memahami konsep tantangan merupakan kesempatan baru, biarkan ia mencoba tantangan lainnya. Setiap tantangan baru yang dicobanya merupakan salah satu jalan dari pengembangan diri.

Ia pun memiliki lebih banyak pengetahuan dan informasi dari percobaan ini. Ketika dia menghadapi tantangan yang serupa, sikap optimis untuk menyelesaikannya dengan baik akan muncul.

 

5. Tidak Menyalahkan Diri Sendiri akan Kegagalan

Ajarkan anak untuk menerima kegagalan atau kekalahan dengan sportif. Hal ini supaya anak tidak menyalahkan diri atas kegagalan tersebut. Kondisi tersebut hanya akan menjebak anak dalam kedukaan yang mendalam. Beri pemahaman kepada anak kalau kekalahan memang membuat sedih.

 

6. Menjaga Emosi Tetap Stabil

Ketika memasuki usia remaja, anak pastinya mengalami sejumlah perkembangan fisik, mental, emosional, bahkan sosial. Hal ini terkadang membuat emosinya berubah-ubah. Supaya sikap optimis tumbuh dalam diri anak, ajarkan kepadanya cara mengendalikan emosi. Ini terutama ketika anak berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai harapannya.

Menjadi anak yang punya sikap optimis juga harus didukung oleh energi yang cukup bagi tubuhnya. Berikan MILO Activ-Go setiap hari agar ia siap menjadi anak yang aktif dan optimis. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Produk MILO ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Ibu pastinya sering mendengar istilah insecure digunakan dalam social media. Bahkan, beberapa kali anak menyebutkan kata tersebut di depan Ibu ketika sedang berdebat. Tahukah Ibu anak yang tidak percaya diri disebut insecure? Tampaknya, Ibu harus cari tahu cara meningkatkan percaya diri anak, nih.

Yakin akan kemampuan diri sendiri disebut percaya diri atau self confidence. Untuk mencapai keyakinan tersebut, anak harus mengetahui cara mengatasi kurang percaya diri tersebut. Tentunya, pertama-tama Ibu bisa membantu anak untuk mengetahui penyebab perasaan insecure bisa muncul di dalam diri anak.

Sebenarnya, perasaan tidak percaya diri cukup wajar dialami oleh anak remaja. Hal ini termasuk dalam tahapan perkembangan kognitif anak berdasarkan Teori Jean Piaget. Ketika anak menginjak usia 12 tahun ke atas. Biasanya, ia mulai aware terhadap fisiknya. Hal ini membuatnya membandingkan dengan orang lain. Ini bisa menjadi hal yang membuat merasa tidak percaya diri.

Baca Juga : 4 Cara untuk Bantu Anak Percaya Diri dengan Olahraga

Dilansir dari Psychology Today, ada tiga faktor yang biasa muncul menjadi penyebab anak tidak percaya diri. Pertama-tama, anak sudah pernah merasakan kegagalan atau penolakan dari hal yang diharapkan. Kedua, anak sebenarnya punya kecemasan terhadap anggapan orang lain. Ia tidak ingin dinilai buruk di hadapan teman-temannya. Ketiga, anak merasa dituntut untuk selalu sempurna. Bahkan, ada aturan tersendiri untuk menjadi sempurna. Jika keluar dari aturan tersebut, anak merasa insecure.

Cara meningkatkan percaya diri anak tidaklah mudah. Ia membutuhkan tahapan untuk melakukannya dan pertolongan dari Ibu. Berikut beberapa caranya yang bisa dilakukan.

 

1. Bantu Anak Belajar Hal Baru

Cara meningkatkan percaya diri anak yang pertama adalah mengajaknya mencoba hal baru. Tahukah, Ibu anak yang kurang explore biasanya memang memiliki pandangan yang sempit. Tak heran mereka menjadi sering membanding-bandingkan sesuatu dengan orang lain.

Padahal, pemikiran tersebut hanya akan membuatnya tambah resah. Mengajak anak belajar hal baru dapat membuatnya punya keahlian baru. Dengan begitu, rasa percaya dirinya pun akan meningkat dengan sendirinya.

 

2. Hindari Mengkritik Penampilannya

Ibu harus memahami, pada masa pubertas, penampilan fisik adalah hal yang sangat penting. Anak akan berubah menjadi anak yang menutup diri hanya karena merasa dirinya jelek. Walau pada kenyataannya, penampilan fisik anak baik-baik saja.

Untuk itu, Ibu sebaiknya menghindari mengkritisi anak soal penampilannya. Hal ini hanya akan membuatnya tambah insecure dan menjauh dari Ibu. Topik penampilan cukup sensitif bagi anak.

 

3. Contohkan Sikap Percaya Diri

Cara meningkatkan percaya diri anak salah satunya harus melibatkan orang tua sebagai role model. Ibu dan ayah harus menunjukkan sikap optimis dalam berkegiatan sehari-hari. Misalnya, Ibu sering meyakinkan anak untuk bisa berolahraga ketika pagi hari. Walau lelah, waktu 15 menit olahraga berhasil dilakukan. Energi positif tersebut bisa tertular ke diri anak, lho.

Baca Juga : 3 Cara Tumbuhkan Percaya Diri Anak

 

4. Jangan Ragu Beri Pujian

Anak remaja pada umumnya membutuhkan pengakuan atas kemampuan dan keberhasilannya. Rasa tidak percaya diri mungkin muncul karena orang tua sering kali tidak menanggapi secara serius kemampuan anak. Bahkan, bersikap biasa ketika memenangkan perlombaan. Hal ini membuat anak merasa tidak dihargai.

Cara meningkatkan percaya diri selanjutnya dapat dilakukan dengan memberikan pujian kepada anak. Dengan demikian, ia semakin bersemangat dan yakin kalau memiliki kemampuan.

 

5. Berikan Asupan yang Bernutrisi

Rasa percaya diri juga bisa meningkat jika tubuh sehat dan berenergi. Anak akan jauh lebih aktif untuk mencoba dan belajar hal-hal baru. Oleh sebab itu, pastikan anak selalu mengonsumsi makanan dan minuman yang kayak ana vitamin dan mineral.

Misalnya, berikan sarapan bernutrisi dan juga segelas MILO 3in1 sebagai pelengkapnya. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Produk MILO ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Ibu merasa ada perubahan karakter anak ketika ia memasuki usia abege atau remaja? Anak yang tadinya penurut dan mudah senyum, berubah menjadi pemberontak. Bahkan, tak jarang Ibu melihatnya bad mood atau menangis. Apa kondisi ini bagian dari perkembangan karakter anak?

Dilansir dari laman Center of Disease Control and Prevention, perkembangan anak usia 7-12 tahun termasuk dalam fisik dan mental. Biasanya anak umur 12 tahun ini akan mengalami perubahan fisik, mental, emosional, dan juga sosial. Tentunya, terkadang anak memerlukan waktu untuk perubahan tersebut.

Melansir dari laman Michigan State University, Amerika Serikat, emosional yang dialami anak-anak ketika mengalami masa pubertas cenderung berubah-ubah. Anak bisa bersemangat ketika Ibu mengajaknya berolahraga. Namun dalam seketika, ia berubah malas-malasan. Bahkan, ia bisa menangis hanya karena masalah yang sederhana.

Hal ini dikarenakan ia mulai membandingkan diri dengan orang lain, aware terhadap bentuk fisik, dan punya keinginan untuk mandiri. Ibu jangan heran kalau anak akan menolak diajak ke mall atau kondangan.

Baca Juga : 6 Tips Dukung Perkembangan Karakter Anak Usia Sekolah

Sering kali juga bertengkar dengan Ibu hanya karena masalah yang sederhana. Hal yang harus dipahami juga pada usia inilah anak mulai bisa melepaskan diri dari bantuan Ibu. Perkembangan karakter anak ini pastinya membutuhkan kesabaran yang tinggi.

Untuk dapat mendukung perkembangan karakter anak, Ibu bisa melakukan beberapa hal berikut ini. Coba disimak, ya!

 

1. Menjadi Role Model

Walau anak sudah beranjak remaja, Ibu tetap harus tahu ia akan meniru orang-orang terdekatnya. Itu sebabnya, orang tua harus menjadi role model yang terbaik bagi anak. MIsalnya, Ibu menunjukkan kasih sayang, sikap tak mudah menyerah, kejujuran, serta keadilan.

Dari sinilah, anak mempelajari karakter-karakter yang baik untuk ditiru. Dengan cara ini, setidaknya perkembangan karakter anak tidak ke arah yang negatif.

 

2. Terapkan Family Time

Ketika anak memasuki masa pubertas, biasanya ia lebih memilih berkumpul bersama teman-temannya. Ia merasa teman sebagai orang yang bisa dipercaya dan lebih asyik ketimbang keluarga. Bila perasaan itu dibiarkan, anak bisa jauh dari keluarga dan orang tua. Tentunya, ini berbahaya kalau anak bergaul dengan orang yang salah.

Untuk itu, ibu bisa menerapkan family time yang wajib dilakukan oleh seluruh anggota keluarga. Bisa dengan acara nonton film bersama, bersih-bersih rumah di saat weekend, atau melakukan kegiatan fisik yang sederhana. Hal ini supaya bonding anak dengan keluarga semakin erat.

Baca Juga : 5 Cara untuk Mendukung Perkembangan Karakter Anak Melalui Olahraga

 

3. Buat Aturan yang Jelas

Perkembangan karakter anak dapat terbantu jika orang tua membuat aturan yang jelas untuknya. Misalnya, Ibu membatasi waktu bermain gadget atau adanya waktu belajar ketika malam hari.

Hal ini penting supaya anak belajar untuk konsisten dan tidak mudah kehilangan arah. Ibu tentunya tidak mau anak terjerumus ke dalam pergaulan yang negatif, kan. Dari sini, anak juga belajar untuk menghargai aturan yang sudah dibuat. Ketika melanggar, ia akan mendapatkan hukumannya.

 

4. Berikan Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Anak usia remaja biasanya hanya butuh diakui oleh orang-orang yang dihormatinya. Salah satu bentuk pengakuan tersebut adalah Ibu mempercayai anak dalam melakukan suatu hal. Berikan ia kebebasan untuk memilih sesuatu, tetapi tetap dengan tanggung jawab.

Misalnya, Ibu mengizinkan anak untuk bermain di rumah temannya ketika hari sekolah. Namun, harus pulang sebelum pukul 6 sore. Anak pun akan happy atas kepercayaan Ibu dan pasti tidak akan melanggar aturan yang dibuat.

Dukung perkembangan karakter anak dengan asupan yang bernutrisi setiap harinya, seperti MILO Activ-Go. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Produk MILO ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Kecerdasan kognitif anak ternyata tidak bisa muncul dengan sendirinya, lho. Anak harus mendapatkan rangsangan tertentu agar kemampuan tersebut muncul. Untuk memahaminya, Ibu juga harus mengetahui tahap perkembangan kognitif anak. Tahapan ini diperkenalkan oleh psikolog asal Swiss bernama Jean Piaget. Ia percaya, ada empat tahapan kognitif yang akan dilalui anak.

Namun, sebelum masuk ke 4 tahap perkembangan kognitif Jean Piaget, ada baiknya Ibu mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan kognitif. Ini supaya Ibu tahu tipe belajar mengembangkan aspek kognitif yang tepat untuk anak.

Apa yang Dimaksud Tahap Perkembangan Kognitif?

Dalam tulisan berjudul Theories of Adolescent Development yang diterbitkan dalam jurnal Academic Press tahun 2020, tahap perkembangan kognitif anak adalah kemampuan anak yang mengacu terhadap proses ingatan, problem solving, dan pengambilan keputusan.

Contoh kemampuan kognitif misalnya anak bisa menceritakan kejadian di sekolah dengan detail. Ia punya sejumlah ide untuk menyelesaikan masalah yang ditemuinya saat sedang belajar.

Tahap Perkembangan Kognitif Pada Anak

Supaya Ibu tak bingung lagi, berikut ini 4 tahap perkembangan kognitif anak berdasarkan Jean Piaget, yang terdiri dari tahap sensorimotor, tahap praoperasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal.

1. Tahap Sensorimotor (0-2 tahun)

Ini merupakan tahap perkembangan kognitif anak yang pertama dalam teori perkembangan kognitif Piaget. Pada tahapan ini, bayi biasanya akan mengembangkan pengetahuan seputar dunia lewat kemampuan sensorik (melihat dan mendengar) dan juga skill motorik (menggapai dan menyentuh benda)

Untuk perkembangan kognitif dalam tahap ini, sebenarnya cukup sederhana. Anak diharapkan dapat memahami keberadaan obyek dan peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitarnya secara alami.

Contohnya, Ibu menyembunyikan mainan favorit anak di bawah bantal. Anak yang muncul kemampuan kognitifnya akan berpikir mainannya hilang. Ia pun akan aktif mencarinya. Umumnya, anak akan menyadari Ibu sudah menyembunyikannya. Namun, ia akan berpura-pura mainannya hilang karena dianggapnya sebagai permainan. Bisa dibilang ini merupakan refleks dasar, indera, dan respons motorik.

Ibu juga perlu tahu kalau pada tahapan sensorimotor ini ada enam sub-tahap kognitif di dalamnya, yaitu:

  • Sub-tahap Refleks (0-1 bulan). Pada sub-tahap perkembangan anak ini, bayi hanya merespons rangsangan dengan refleks alami seperti menghisap atau menggenggam.
  • Sub-tahap Gerakan Koordinatif Awal (1-4 bulan). Bayi mulai mengembangkan kemampuan mengoordinasikan gerakan tubuhnya, seperti menggoyangkan tangan dan kaki secara sadar.
  • Sub-tahap Reaksi Circular Primer (4-8 bulan). Bayi mulai melakukan gerakan yang disukainya dan secara tidak sengaja memicu suatu hasil yang menyenangkan, sehingga ia ingin mengulanginya lagi.
  • Sub-tahap Reaksi Circular Sekunder (8-12 bulan). Bayi mulai mengulangi gerakan yang menyenangkan yang melibatkan objek di sekitarnya, seperti menggoyangkan mainan untuk mengeluarkan suara.
  • Sub-tahap Koordinasi Reaksi Circular Tersier (12-18 bulan). Bayi mulai menggabungkan beberapa tindakan yang berurutan atau berhubungan untuk mencapai tujuan tertentu, seperti memindahkan benda untuk mengambil mainan yang diinginkan.
  • Sub-tahap Representasi Mental (18-24 bulan). Bayi mulai memahami konsep objek secara mental, sehingga mereka dapat mencari objek yang tersembunyi.

2. Tahap Praoperasional (Usia 2-7 tahun)

Pada tahap perkembangan kognitif menurut Piaget ini, biasanya anak mulai berpikir dan memahami sesuatu dengan cara simbolik. Ini berarti ia belum dapat menggunakan logikanya. Untungnya, di periode ini anak sudah memiliki kemampuan berbicara yang cukup lancar. Bahkan, beberapa anak sudah bisa membaca.

Ibu jangan heran dalam tahapan ini anak sering sekali bercerita. Terutama soal pengalaman yang dialaminya. Beberapa anak bahkan sudah bisa mengarang dongeng sederhana. Saat inilah, Ibu jangan diam saja. Tanggapi cerita anak tersebut dan biarkan ia explore hal baru lebih banyak lagi.

3. Tahap Operasional Konkret (Usia 7-11 tahun)

Biasanya, anak usia 7-11 tahun sudah mulai berpikir logis dan lebih terorganisir. Bahkan, anak sudah mulai berani mengemukakan pendapatnya terhadap sesuatu. Tak jarang mereka bisa menentukan pilihan sesuai keinginannya. Bisa dibilang anak sudah menyadari cara berpikir mereka unik dan bahwa tidak semua orang harus memiliki pemikiran, perasaan, dan pendapat yang sama dengannya.

Menurut Piaget, tahapan kognitif yang satu ini sangatlah penting. Ini karena dianggap sebagai titik balik utama dalam perkembangan kognitif awal. Hal ini ditandai dengan adanya awal pemikiran logis atau menggunakan logika. 

4. Tahap Operasional Formal (Usia 12 tahun ke atas)

Pada tahapan terakhir ini, kemampuan kognitif anak semakin berkembang. Pengaruh tahap perkembangan kognitif di tahapan ini adalah ia mulai mengenal hubungan sebab-akibat. Selain itu, ia bisa menyimpulkan atau menyelesaikan permasalahan yang lebih rumit. Salah satu contoh kemampuan kognitif berupa penalaran logis.

Ia juga lebih mampu menemukan berbagai solusi potensial untuk masalah dan berpikir lebih ilmiah tentang dunia di lingkungan sekitarnya. Bahkan, cara berpikir kreatif mulai muncul pada tahapan tersebut.

Sekarang Ibu sudah paham soal 4 tahap perkembangan kognitif anak berdasarkan Teori Piaget, kan. Untuk mendukung perkembangan kognitif anak, Ibu bisa memberikan MILO 3in1 setiap hari. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO.

Produk MILO ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.


Source:

  1. Simply Psychology. Piaget’s Sensorimotor Stage Of Cognitive Development. Dari https://www.simplypsychology.org/sensorimotor.html#Sub-Stages-Development-Examples . Diakses 5/10/2023

Mengapa aktivitas fisik itu penting untuk anak? Ya, semestinya Ibu jangan senang kalau anak hanya lebih suka berdiam diri saja di rumah. Bahkan, tidak melakukan aktivitas fisik apa pun. Perlu Ibu pahami, manfaat aktivitas fisik sangat penting untuk kesehatan dan pertumbuhan anak. Itu sebabnya, Ibu harus dapat memotivasi anak melakukannya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, anak di atas usia 6 tahun hingga remaja dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama kurang lebih 60 menit. Waktu kegiatan tersebut bisa dibagi menjadi dua hingga 4 durasi waktu. Ini tergantung kesiapan anak.

Kira-kira ada 4 keuntungan melakukan aktivitas fisik untuk anak. Misalnya, menjaga daya tahan tubuh, baik untuk pertumbuhan tulang, memperbaiki kesehatan mental, bahkan dapat membangun bonding dengan anggota keluarga lainnya. Salah satu olahraga yang mudah dilakukan adalah jogging atau jalan kaki.

Ibu masih penasaran dengan manfaat aktivitas fisik? Ini dia beberapa yang perlu Ibu ketahui. Siapa tahu semakin yakin untuk mengajak anak melakukan kegiatan tersebut bersama-sama.

Baca Juga : 5 Manfaat Aktivitas Fisik untuk Menjaga Kesehatan Anak

 

1. Mengontrol Pertumbuhan Anak

Makanan seperti apa yang disukai anak-anak? Biasanya, mereka sangat menyukai makanan manis, seperti permen, kue, hingga coklat susu. Bahkan, beberapa anak sangat suka makanan junk food. Namun, tahukah Ibu kalau kebiasaan mengonsumsi makanan tersebut bisa membuat pertumbuhan anak terhambat.

Anak yang memiliki berat badan di atas rata-rata tidak berarti ia sehat. Bila kelebihan berat badan terus berlangsung bisa-bisa anak terkena penyakit serius, seperti penyakit jantung, obesitas, atau diabetes. Ketika anak sudah mengalami penyakit tersebut, pastinya pertumbuhan dan perkembangannya bisa terganggu.

Aktivitas fisik bisa menjadi salah satu cara mengontrol berat badan anak. Bahkan, menurut European Childhood Obesity Group (ECOG), aktivitas fisik masuk dalam program pengobatan masalah obesitas. Manfaat aktivitas fisik ini sangat penting untuk memulai hidup sehat.

 

2. Meningkatkan Kecerdasan

Manfaat aktivitas fisik lainnya adalah meningkatkan kecerdasan anak. Kok, bisa? Bukti ini ditemukan dalam studi yang dilakukan kepada pemain sepak bola suatu universitas. Dari penelitian tersebut, ditemukan partisipan yang masih melakukan aktivitas fisik ketika waktu bebasnya, memiliki IQ lebih tinggi dibanding yang tidak.

Selain itu, aktivitas fisik yang dilakukan bersama satu tim biasanya menuntut anak untuk menjadi seorang problem solver. Ketika anak bermain basket misalnya, biasanya sudah memiliki rencana tertentu. Namun, anak akan membuat keputusan secara singkat untuk kapan waktu melempar hingga berlari. Secara tidak langsung otak akan bekerja keras sambil koordinasi dengan organ tubuh lainnya.

Baca Juga : 5 Manfaat Aktivitas Fisik Bagi Tumbuh Kembang Anak

 

3. Meningkatkan Keterampilan Tubuh

Koordinasi tubuh sebenarnya tidak bisa muncul begitu saja. Anak perlu dilatih untuk mendapatkan kemampuan dan keterampilan tersebut. Aktivitas fisik bisa menjadi cara Ibu melatihnya.

Bentuknya, bisa dance bersama atau bermain ketangkasan. Dari kegiatan ini anak bisa meniru bentuk gerakan yang tepat. Secara tidak langsung juga melakukan koordinasi antara otak, mata, tangan, serta kaki. Biasanya, kalau anak memiliki keterampilan atau koordinasi tubuh yang baik, ia akan lebih mudah menjaga keseimbangan.

 

4. Membentuk Pola Tidur yang Baik

Anak di atas 6 tahun, pastinya lebih memerlukan waktu tidur yang panjang. Biasanya sekitar 8 hingga 10 jam. Namun kadang-kadang, hal ini susah dilakukan. Anak sulit tidur karena ingin bermain games atau merasa lapar. Akibatnya, anak suka begadang. Kebiasaan ini tidak baik untuk kesehatan fisik dan mental anak.

Manfaat aktivitas fisik lainnya adalah memperbaiki pola tidur anak. Saat anak melakukan kegiatan fisik pastinya semua bagian tubuh ikut bergerak dan bekerja. Kondisi ini membuat tubuh merasa lebih lelah. Saat tubuh terasa lelah, anak akan tidur lebih lama dan lelap. Tentunya, ini baik untuk pertumbuhannya.

 

5. Meningkatkan Proses Pemadatan Tulang

Sejumlah penelitian menemukan bahwa orang yang rutin melakukan aktivitas fisik, memiliki kepadatan tulang lebih baik. Kondisi ini dibandingkan dengan orang yang tidak melakukannya.

Kabarnya, kebiasaan melakukan kegiatan fisik ini dilakukan secara rutin sejak dini. Hal ini untuk mencegah terjadinya osteoporosis sekaligus membuat anak memiliki struktur tubuh yang baik. Biasanya, aktivitas fisik yang cocok untuk tingkatkan kepadatan tulang berhubungan dengan gerakan melompat.

Itu tadi manfaat aktivitas fisik bila dilakukan secara rutin oleh anak. Untuk tambahan energi dan nutrisi anak saat ia berkegiatan, berikan MILO Activ-Go. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. MILO bubuk ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Ketika hari olahraga nasional, biasanya sekolah akan membuat acara pertandingan untuk seluruh murid. Ada baiknya, Ibu mempersiapkan untuk hari itu sejak sekarang. Ini karena kondisi fisik anak harus baik ketika perlombaan itu tiba. Salah satu manfaat olahraga secara teratur adalah memperkuat stamina. Itu sebabnya, Ibu bisa melatihnya dengan aktivitas fisik yang tingkat rendah, misalnya jogging atau jalan kaki.

Menurut Stanford Children Health Hospital, Amerika Serikat, olahraga adalah latihan gerakan yang dapat memicu aliran darah terpompa lebih cepat ke seluruh organ tubuh. Tujuan berolahraga adalah supaya organ-organ tubuh anak bisa bekerja dengan baik. Mulai dari otak hingga kaki.

Berdasarkan informasi dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), anak-anak sebaiknya melakukan setidaknya melakukan olahraga dengan intensitas sedang selama 60 menit. Nah, tentu waktu olahraga ini bisa dibagi dua kali hingga empat kali sesi. Namun, pastikan yang dilakukan cocok untuk olahraga anak kecil.

Manfaat olahraga bagi anak-anak tentunya banyak sekali. Salah satu Manfaat olahraga secara teratur juga berguna untuk menaikan mood anak. Ibu ingin tahu apalagi keuntungan melakukan aktivitas fisik tersebut? Ini dia beberapa di antaranya.

 

1. Meningkatkan Kepadatan Tulang

Manfaat olahraga secara teratur yang pertama berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan tulang anak. Ibu perlu paham beberapa studi menjelaskan bahwa anak yang rutin berolahraga memiliki kepadatan tulang lebih baik dibanding yang tidak melakukannya sama sekali.

Baca Juga : Manfaat Olahraga Bagi Anak Anak, Bisa Tingkatkan Kepercayaan Diri

Bila kebiasaan olahraga dilakukan sebelum masa pubertas anak, dapat mengurangi risiko terkena osteoporosis dan masalah tulang lainnya ketika dewasa. Namun, ada cara olahraga yang tepat untuk meningkatkan kepadatan tulang. Misalnya, aktivitas fisik yang menggunakan gerakan melompat. Tampaknya, olahraga basket, voli, dan badminton bisa menjadi pilihan.

 

2. Mencegah Obesitas

Selain virus dan bakteri, Ibu juga sering mengkhawatirkan masalah berat badan anak. Apalagi kalau anak menyukai konsumsi makanan dan minuman manis. Bisa-bisa kalau tidak terkontrol, anak akan mengalami berat badan berlebih atau masalah obesitas. Nah, ternyata olahraga bisa menghindarkan anak dari kemungkinan tersebut, lho.

Olahraga secara teratur setiap hari atau seminggu tiga kali dapat mengurangi kemungkinan terjadinya obesitas pada anak hingga 31%. Namun, olahraga tidak bekerja sendiri. Ibu juga harus mengatur pola makan anak. Jangan sampai ia lebih sering mengonsumsi junk food.

 

3. Mengoptimalkan Kesehatan Jantung

Manfaat olahraga secara teratur lainnya berhubungan dengan kesehatan jantung. Tahukah, Ibu kalau rutin melakukan olahraga intensitas sedang dapat meningkatkan denyut jantung. Buktinya, anak merasa jantung berdebar ketika waktu istirahat olahraga.

Denyut jantung yang meningkat itu artinya akan semakin banyak oksigen yang masuk ke dalam tubuh dan berkeliling di dalam sistem peredaran darah. Tentunya, ini membantu kerja jantung. Sekaligus kebutuhan oksigen dan nutrisi seluruh organ tubuh bisa terpenuhi.

Baca Juga : 5 Manfaat Olahraga Bela Diri Bagi Pertumbuhannya

 

4. Meningkatkan Kekuatan Otot dan Koordinasi

Pastinya olahraga memaksa anak untuk menggerakan seluruh badan. Dari ujung kepala hingga kaki semuanya aktif bergerak. Tanpa sadar gerakan ini dapat melatih kekuatan otot, lho. Kebiasaan olahraga dapat membuat otot dapat bekerja dengan baik, kuat, dan tidak mudah cedera.

Selain itu, tanpa sadar juga anak sudah melakukan koordinasi antara beberapa bagian organ tubuh. Tentunya, hal ini perlu dilatih supaya sinyal antara otak dan beberapa otot dapat berjalan lancar.

 

5. Meningkatkan Fungsi Kognitif

Manfaat olahraga secara teratur juga ternyata ada hubungannya dengan kecerdasan, lho. Sejumlah penelitian mengatakan, anak yang rutin berolahraga umumnya punya aktivitas otak bagian prefrontal yang aktif. Tugas bagian otak ini sebenarnya adalah mengatur fungsi kognitif.

Bahkan, sejumlah anak yang melakukan olahraga dalam sebuah tim, bisa menjadi seorang problem solver. Ini karena dalam olahraga, anak harus memutuskan sesuatu hal dalam waktu singkat. Misalnya, saat bermain sepak bola, anak harus mengikuti taktik yang sudah direncanakan. Namun, ketika taktik gagak, anak harus tahu ke mana ia menendang bola. Hal ini yang membuat anak suka olahraga lebih cerdas dan punya intuisi lebih baik.

Bagaimana Ibu, sekarang sudah tahu manfaat olahraga teratur untuk anak? Sebelum anak berolahraga, pastikan energi dan nutrisi terlengkapi agar anak dapat beraktivitas dengan optimal. Untuk tambahan energi, berikan MILO Activ-Go. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. MILO bubuk ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Hari pertama sekolah tak cuma membuat anak deg-degan. Namu, para orang tua tak kalah excited dengan pengalaman pertama ini. Tak jarang Ibu berubah menjadi bawel ketika hari itu akan tiba. Pastinya Ibu ingin semuanya perfect, jangan sampai ada yang terlewat. Sebenarnya, bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah untuk pertama kalinya?

Sebenarnya, keresahan Ibu dan bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah yang sempurna wajar terjadi. Ini karena sekolah pertama merupakan momen terpenting bagi anak. Bahkan, anak juga harus mempresentasikan dirinya dengan baik pada kesempatan tersebut.

Menurut studi yang dipublikasikan tahun 2004 dalam jurnal Association for Psychological Science, hari pertama masuk sekolah adalah momen sangat penting dari keseluruhan kegiatan selama anak bersekolah. Tentunya, persiapannya harus dipikirkan degan baik. Saat kelas pertama, pastinya Ibu mau anak sekolah tampil menarik, rapi, penuh kesiapan, jelas, dan antusias. Kesan pertama ini dapat membuat hubungan yang positif terhadap lingkungan sekitarnya.

Setelah mengetahui pentingnya momen tersebut, saatnya Ibu cari tahu bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah? Berikut ini beberapa tips anak sekolah yang bisa Ibu jalankan sebelum momen itu tiba.

Baca Juga : Sarapan Sehat Untuk Anak Sekolah Untuk Daya Tahan Tubuh!

 

1. Cari Tahu Soal Sekolah

“Tak kenal maka tak sayang.” Pepatah populer tersebut juga cocok dengan masalah persekolahan anak. Walau tak bicara langsung, pastinya anak punya kekhawatiran sendiri terhadap sekolah atau kelas barunya. Misalnya, ia khawatir tak punya teman atau bahkan takut gurunya galak.

Kekhawatiran tersebut hanya akan membuat anak tidak bersemangat untuk memulai hari pertamanya sekolah. Untuk mengatasinya, Ibu bisa memperkenalkan sekolah yang dituju anak terlebih dulu. Sekarang ini, sejumlah sekolah memiliki akun social media sendiri. Ibu bisa mengeceknya bersama anak.

Cari tahu juga kegiatan dan keunggulan sekolah tersebut. Ini bisa cek dari komentar beberapa alumni atau anak yang bersekolah di sana. Cari hal yang sekiranya membuat anak tertarik. Misalnya, ia suka olahraga basket. Nah, cek prestasi klub basketnya. Siapa tahu, anak makin bersemangat masuk sekolah.

 

2. Persiapkan Bekal dengan Baik

Bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah? Salah satu hal yang paling utama dan sederhana, bisa mulai dari bekal yang dibawanya ke sekolah. Pastikan Ibu memberikan anak bekal yang kaya akan nutrisi. Ibu bisa menghiasnya sedikit supaya anak tahu kalau sedang didukung.

Ada baiknya, Ibu menyiapkan bekal yang cukup mengenyangkan. Ini supaya anak tidak jajan sembarangan di sekolah barunya. Bisa membawanya sedikit banyak agar anak bisa berbagi dengan teman sekelasnya. Berbagi makanan bisa menjadi cara jitu bersosialisasi.

 

3. Antar Anak Saat Hari Pertama Sekolah

Mengantar anak saat hari pertama sekolah ternyata penting, lho. Luangkan waktu orang tua untuk mengantarnya sehari saja. Secara tidak langsung, Ibu telah memberikan dukungan pada anak agar berani untuk melangkah ke jenjang yang baru. Setidaknya, ini mengurangi kekhawatiran anak akan sekolah barunya.

Untuk anak yang lebih kecil, hari sekolah pertama bisa menjadi momen yang mengerikan. Ini karena kemungkinan pertama kalinya ia berpisah lama dengan kedua orang tuanya. Jadi, mengantarnya ke sekolah bisa menjadi simbol bahwa anak tidak ditinggalkan.

 

4. Apresiasi Anak

Jangan lupa untuk menanyakan kondisi anak ketika sudah pulang sekolah. Pinta ia ceritakan soal hari pertamanya di sekolah. Tanyakan siapa nama teman-teman yang diingatnya. Bila ternyata anak menjalani hari pertamanya dengan baik, Ibu jangan ragu untuk memujinya.

Bisa juga memberikan hadiah kecil-kecilan, seperti membuatkan makanan favorit atau menambah waktu bermain games-nya sehari ini. Pastinya, anak merasa dihargai usahanya. Ia pun termotivasi untuk rajin datang ke sekolah.

 

5. Kerja Sama dengan Guru

Bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah dengan baik? Salah satunya, Ibu harus sudah mengontak guru wali kelasnya terlebih dulu. Bila anak Ibu memiliki kondisi khusus, ungkapkan kepada guru. Ibu juga harus aktif menanyakan perkembangan anak di kelas. Ini supaya terpantau terus kondisi anak walaupun jauh dari Ibu.

Bagaimana menyiapkan anak untuk bersekolah yang mudah diterapkan? Pastikan anak tetap sehat selama beraktivitas dan lengkapi kebutuhan energi dan nutrisinya dengan memberikan MILO UHT. Minuman sehat ini cocok untuk dibawa sebagai bekal sekolah karena bentuknya yang praktis disantap. Minuman coklat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. MILO kotak ini juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak di periode tumbuh aktif.

Ibu harus paham kalau anak tidak selamanya berinteraksi dengan anggota keluarga saja. Ketika usia sekolah nanti, anak akan menjalankan kehidupan sosialnya. Tugas Ibu adalah mempersiapkan kemampuan sosial anak sejak dini. Salah satunya adalah memperkenalkan anak terhadap konsep kerjasama. Walau terlihat seperti skill dasar, manfaat dari kerjasama ternyata cukup banyak.

Namun, sebelum berkenalan dengan manfaat dari kerjasama, ada baiknya mengetahui sejumlah informasi dulu. Pertama-tama Ibu memahami mengapa kita harus bekerjasama?

Dilansir dari laman University of Nevada, Amerika Serikat, kerjasama adalah kemampuan seseorang untuk bekerja bersama orang lain atau dalam sebuah grup. Tujuan bekerja sama adalah untuk memecahkan sebuah masalah atau menyelesaikan suatu proyek tertentu.

Mengapa kerja sama harus dibiasakan sejak dini? Perlu Ibu ketahui, sangat penting untuk mengajarkan beberapa hal sedini mungkin. Semakin awal anak belajar sebuah kemampuan, semakin nyaman ia menggunakannya sepanjang hidupnya. Konsep kerjasama tak hanya penting pada masa kanak-kanak. Namun, dapat membantu kelancaran dan kesuksesan kehidupannya saat dewasa.

Baca Juga : Ajak Anak Nonton Pertandingan Olahraga, Yuk! Ini 7 Manfaatnya

Di mana saja sebaiknya kita menerapkan kerjasama? Anak bisa menerapkannya di lingkungan rumah, sekolah, atau tempatnya bermain. Sebenarnya, kerjasama bisa diterapkan di mana saja. Namun, kebanyakan memang terjadi ketika anak harus bersosialisasi. Misalnya, di kelas saat harus membuat tugas bersama atau dalam tim olahraga ketika bertanding.

Lalu, apa saja manfaat dari kerjasama bagi anak? Tentunya tak cuma satu. Ada beberapa yang membuat anak mendapatkan keuntungan Manfaat kerjasama adalah sebagai berikut ini.

1. Belajar Mendengar dan Didengar

Selama ini anak di rumah cuma sendiri tak punya saudara kandung. Pastinya, ia merasa menjadi orang yang paling didengar di dalam keluarga. Bila anak merasa demikian, bisa-bisa ia tumbuh menjadi orang yang egois. Tentunya, Ibu tak ingin itu terjadi.

Dengan memperkenalkan konsep kerjasama, perasaan tersebut bisa berubah. Konsep ini membuat anak harus mendengarkan pendapat orang lain dan menghargainya. Ketika memutuskan sesuatu tidak bisa sembarangan karena dapat berdampak terhadap orang lain.

Secara tidak langsung, anak menjadi terlatih untuk lebih aware terhadap orang dan lingkungan di sekitarnya. Ia pun tahu kalau hidup tidak hanya berpusat terhadapnya. Anak juga dapat terlatih memberikan pendapat dengan cara sopan dan tidak memaksa.

2. Meningkatkan Empati

Manfaat kerjasama lainnya adalah anak mengenal sikap empati. Tentunya, dalam bekerja sama, anak akan bertemu banyak orang dari berbagai latar belakang. Dari bertemu orang yang serba kekurangan hingga yang memiliki segalanya. Dari sini, anak bisa belajar setiap perilaku dan perasaan orang-orang tersebut.

Bahkan, bisa membayangkan perasaan mereka. Dari situ, anak juga bisa mengetahui cara memperlakukan setiap individu. Mulai paham kalau setiap orang itu beragam. Bila sudah mencapai empati, anak akan lebih mudah lagi bergaul dengan siapa saja. Ia pun tidak akan mengalami kesulitan ketika harus bekerja sama dalam suatu tim.

3. Memiliki Keterampilan Problem Solving

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kerjasama memiliki tujuan untuk memecahkan masalah dan menyelesaikan proyek tertentu. Pastinya ketika bekerjasama dalam satu tim, akan ada perbedaan pendapat. Nah, bagaimana anak menghadapinya? Tentunya, ini harus didiskusikan bersama hingga bertemu titik temu.

Anak juga bisa mengutarakan pendapatnya untuk memecahkan masalah. Selain menjadi problem solver, manfaat kerjasama lainnya adalah membuat anak lebih kreatif dan kritis. Ia akan mencari jalan keluar agar sukses menyelesaikan tugas dan masalah yang dihadapinya.

4. Meningkatkan Rasa Percaya Diri

Saat berada di rumah, anak jarang sekali menjadi pemberi keputusan. Namun, ketika bekerjasama dalam sebuah grup, ia merasa punya banyak kesempatan untuk membuat, bahkan memutuskan sesuatu. Hal ini membuatnya merasa punya kendali akan sesuatu.

Tentunya, kondisi ini membuat anak lebih percaya diri. Ia tahu kalau ternyata punya kemampuan untuk menjadi pemberi keputusan. Apalagi kalau keputusan yang diambil dalam grup sekolah tepat. Ia pun semakin percaya akan kemampuannya.

5. Melatih Kepemimpinan Anak

Tak semua anak lahir ke dunia dengan sifat pemimpin. Namun, Ibu bisa melatihnya menjadi seorang pemimpin. Ini merupakan salah satu manfaat kerjasama. Konsep ini membuat anak punya banyak kesempatan menjadi seorang pemimpin. Ia pun bisa belajar dari pemimpin grup cara yang tepat melakukannya.

Anak juga akan cepat mengobservasi setiap anggota timnya. Ketika ia menjadi pemimpin, dapat memperlakukan anggotanya dengan tepat.

6. Meningkatkan Keterampilan Komunikasi

Manfaat kerjasama yang berikutnya adalah untuk meningkatkan keterampilan komunikasi anak-anak. Ketika anak bekerja sama dengan teman-temannya, mereka belajar untuk berkomunikasi dengan baik. Mereka belajar mendengarkan pendapat orang lain, menyampaikan ide-ide mereka sendiri, dan mengekspresikan perasaan mereka dengan jelas.

7. Mengembangkan Keterampilan Sosial

Berikutnya, Manfaat kerjasama yang bisa dirasakan adalah dengan berkembangnya keterampilan sosial mereka. Pasalnya, kerjasama dapat membantu anak untuk belajar berinteraksi dengan orang lain secara positif. Mereka belajar mengenali perasaan orang lain, menghormati perbedaan, dan bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

8. Memupuk Rasa Tanggung Jawab Bersama

Anak belajar bahwa setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan proyek bersama. Mereka belajar untuk bekerja keras, berkolaborasi, dan tidak mengabaikan tanggung jawab mereka terhadap tim.

9. Membangun Keterampilan Kerjasama Tim

Kerjasama mengajarkan anak untuk bekerja sama dalam tim dengan efektif. Mereka belajar tentang pembagian tugas, koordinasi, kompromi, dan bagaimana menjaga hubungan yang positif dalam kelompok.

Kerjasama adalah pondasi yang penting dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Dengan mengajarkan nilai-nilai dan manfaat dari kerjasama sejak dini, Ibu tidak hanya membantu anak membangun keterampilan penting, tetapi juga membantu mereka menjadi individu yang lebih baik dalam masyarakat.

Itu tadi beberapa manfaat kerjasama. Pastikan energi anak terlengkapi agar anak dapat beraktivitas dengan optimal. Untuk tambahan energi dan nutrisi anak saat beraktivitas, berikan MILO Activ-Go. Minuman cokelat berenergi ini memiliki kandungan susu, cokelat, dan proses dua kali ekstrak malt menghasilkan energi alami di setiap butiran MILO. Susu MILO juga mengandung vitamin B2, B3, B6, B12, C, dan D, serta kalsium, fosfor, dan zat besi untuk mendukung energi dan nutrisi anak untuk aktif setiap hari.